Kamis, 30 Mei 2013

My Beloved Brothers

me and my beloved brothers



Resti Fuji Lestari, sebuah nama yang sejak 11 oktober 20 tahun silam terukir lewat jemari kedua malaikat terbaik yang Tuhan kirimkan dalam kehidupanku. Sulung dari dua kurcaci kecil yang kini sedang beranjak jadi remaja. Gadis penggemar jeruk nipis dan segala jenis makanan dan minuman dengan rasa asam, penggemar segala jenis makanan terutama khas kota tercinta khatulistiwa. Aku masih penggemar bingka, canai, bubur terutama bubur pedas dan mie kanji.

Ya…..tuan puteri, lama rasanya tak ada yang memanggilku seperti itu lagi sejak sosok abang – abangku tak lagi menemani hariku, mengantar jemput ke sekolah dengan sedikit omelan karena kebiasaan bangun siangku serta menghilang dari sekolah saat dijemput. Aku sayang kalian bang, abang – abang terbaik yang selalu sabar menghadapi adik kecil yang sangat tomboy. 

Masih kuingat satu hari dimana aku menghilang seusai jam sekolah,

Selasa, 23 April 2013

Tanduk Dusta Sang Peri Kecil





Tuhan…..
Dimana titik itu berawal…???
Hingga semua menjadi goresanmu bagi kisahku
Aku tak jua pahami tentang isi hati
Bahagia, sedih, takut, kecewa, meragu……
Semua dalam satu dimensi
Berpadu menjadi sebuah tanya dalam pikirku
Aku nyaman dan menggores senyum yang tak biasa kala bersamanya
Ketakutan dan meragu kala ia mulai jadi canduku
Dosa kah jantung ini kala memainkan ritmenya lebih cepat….???
Kala imajinasi ku mulai tak mampu hapus sketsa wajahnya
Bermain dalam satu rasa yang dulu orang katakan ini cinta…..
Dan bagiku yang tak pernah bisa mendefinisikan kata cinta
Otak dan hatiku sedang kompromi
Memutuskan untuk mengatakan ini kasih sayang
Beda …..
Rasa sayang hari ini bukan yang dulu
Cara ungkapkannya pun telah berubah
Semua jadi lebih mendebarkan
Membuat lidahku keluh dan tandukku kembali berdusta
Tidak, aku hanya anggap kau sahabat
Begitulah saat ritme jantung tak mampu kukendalikan
Maka tandukku lah yang akan kembali berdusta

Jumat, 01 Maret 2013

Perbedaan Seindah Warna Pelangi



Putih dan hitam, gelap dan terang, kesedihan dan kebahagiaan, serta pergantian musim yang terus bergulir saling melengkapi setiap sisi yang mewarnai kehidupan. Sebagaimana pelangi yang memiliki beragam warna, berpadu dengan begitu selaras, sehingga membuatnya nampak indah ditangkap oleh mata. Ada begitu banyak unsur dalam kehidupan ini yang berbeda satu dengan yang lain, bukan untuk saling bergesekkan dan membenci, akan tetapi untuk saling memahami. Perbedaan yang membuat kita mengerti, bahwa hidup bukan untuk diri kita sendiri akan tetapi untuk belajar membuka mata hati dan pikiran kita, tentang begitu indahnya dunia karya sang Khalik, dengan sejuta warna yang menjadi corak kehidupan.
Selayaknya koral yang memiliki beragam warna, bentuk, dan tekstur yang membuatnya nampak berbeda satu dengan yang lain, begitu pula dengan manusia sebagai khalifah dalam kehidupan ini. Manusia memiliki begitu banyak perbedaan yang membuat setiap individu nampak unik, menarik dan berbeda dengan manusia yang lain. Setiap insan yang menjalani roda kehidupan di bumi ini memiliki karakter yang membuatnya dikenal oleh pribadi disekitarnya, dan sudah selayaknya kita memahami siapa dan bagaimana kepribadian kita serta orang – orang disekeliling kita. Lewat proses memahami maka kita akan belajar bagaimana untuk bersikap dan menghargai pribadi yang mungkin berbeda dengan diri kita.
Ada beberapa tipe kepribadian yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita, yakni tipe pribadi Kolerik, Flegmatik, Sanguinis dan Melankolis. Setiap tipe kepribadian tersebut memiliki karakter masing – masing yang mungkin agak sedikit berbeda, so buat memahaminya coba dech  kita menilai tipe mana yang paling mendekati pribadi kita atau orang – orang disekitar kita. Satu hal yang harus diingat bahwa kita mungkin saja memiliki kombinasi antara dua tipe pribadi dibawah ini.

Senin, 31 Desember 2012

Sabtu Malam atau Malam Minggu, Apa Bedanya???

16/17 __29 Desember 2012

Sabtu 29 Desember 2012

Senja itu terasa begitu berkesan di memori pikirku, menjadi sebuah alunan yang terasa berbeda dibanding sebelumnya. Apakah waktu seakan berhenti selama beberapa menit ketika aku membaca pesanmu untukku, atau aku yang membeku seketika kala mata mencoba mengartikan rangkaian kata itu. Bergelut dengan rutinitas akademik dan organisasi memang bukan menjadi hal baru bagi kita, menikmati setiap detik dinamika sebagai mahasiswa adalah sebuah anugerah yang tak ternilai dari Allah SWT. Rasa penat kini mulai menjalar tubuh dan pikirku saat untuk pertama kali kau mengajakku menikmati waktu untuk melepas semua beban itu sementara waktu. Saat sebuah tanya kemana aku akan pergi menikmati malam ini, aku berpikir kamu akan menyuruhku kembali tenggelam dalam dinamika organisasi yang sedang penatkan diri seperti yang kau katakana biasanya, namun aku salah karena senja itu kau bersedia menemaniku menikmati film yang aku inginkan hanya untuk sebuah senyum lepasku.
Bolehkah aku tertawa ketika aku mengingat pertanyaanmu tentang malam apakah ini “sabtu malam atau malam minggu”, hal yang selalu membuat aku tersenyum. Sebuah tanya atau jebakan agar aku tersipu malu untuk menjawabnya, aku tak tahu apa yang ada di pikiranmu karena sekarang kamu lebih memahamiku. Aku tahu pasti kamu tak pernah suka melangkahkan kakimu di tempat dimana aku biasa menikmati waktu untuk menghapus penatku, tapi senja ini kamu menawarkan untuk melewati waktu untuk menemani aku menghapus semua penatku. Bukan menjadi hal yang mudah untuk sekedar menikmati waktu senggang dengan mu, rasanya seperti sedang bermain petak umpet agar tak ada yang menemukan kita sedang berjalan menyusuri malam. Malam ini semua semakin jelas bagiku, menjawab sederet tanya dipikirku tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi, mungkinkah aku salah mengartikannya. “Apa kamu tau bahwa malam ini adalah first date kita, dan kamu telah merubah sabtu malamku menjadi malam minggu” ,masih kuingat kalimat yang terlontar dari mu. Kamu benar malam ini adalah malam minggu pertamaku dengan seseorang yang mengaku menjadi pacar pertamaku, ya aku izinkan kamu mengganggap dirimu sebagai pacar pertamaku karena memang tak pernah ada yang mendapat status itu sebelum kamu. Pacar pertama sebuah istilah yang membuatmu selalu tertawa lepas kala aku mengucapnya dengan sedikit keterpaksaan ketika harus mengakuinya, karena memang itulah yang menjadi faktanya.  
Kembali ke malam minggu pertamaku, rencana dadakan kamu nggak semudah yang dibayangkan malam ini, karena semua tiket nonton film yang aku inginkan laku terjual tanpa menyisakan kita kursi kosong. Ternyata kamu nggak menyerah juga ya, kita beranjak ke bioskop lain yang kalau mau dibilang nggak deket dari bioskop sebelumnya, but aku menikmati malam ini dengan kesederhanaanmu. Finally, dapet juga tiket nontonnya meski cuma tersisa 2 tiket terakhir untuk shift midnight jam 21.30 wib dan sekarang jarum jam ku baru menunjukkan pukul 20.00 wib. Kita tahu dimana tempat yang paling tepat untuk menghabiskan waktu selama 1,5 jam ini, TOKO BUKU.

Kamis, 23 Agustus 2012

Mahameru






Ketinggian memberikan segenggam ketenangan dalam kesejukkan alam semesta, memberikan kesadaran akan kebesaran Allah dengan segenap rasa syukur atas nikmat kehidupan yang telah kurasakan hingga mampu menikmati keindahan alam semesta di Mahameru.(12 Juli – 15 Juli 2012).
Sebuah kesempatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, tentang sebuah mimpi  yang kini telah menjadi nyata dikehidupanku. Berawal dari keinginanku semasa kecil untuk menapakkan kaki di tanah jawa, menjelajah bukit serta gunung tinggi menjulang yang kulihat di lembar – lembar foto abangku. Menyeruak perasaan iri yang kemudian membuatku memberanikan diri untuk bermimpi menatap keindahan sang khalik diatas ketinggian. Sebuah mimpi akan mampu menjadi sebuah kenyataan ketika kita terus berani melangkah untuk mengukirnya dalam kisah kita. Impian itulah yang kini membawaku menapakkan kaki diatas ketinggian penuh kedamaian serta memotretnya dengan kedua indra yang begitu sempurna Allah karuniakan bagiku.
Selasa (12 Juli 2012), aku masih disibukkan dengan rutinitasku dikampus yang tak kunjung usai meski liburan tahun ajaran baru telah dimulai. Dipikiranku masih menyeruak sebuah keinginan yang diselimuti keraguan tentang tawaran seorang teman untuk menatap Mahameru, sebuah gunung tertinggi yang merupakan gunung impianku dimasa kecil. Keinginan itu sempat memudar seiring keberatan yang mama ucapkan pada ku sesaat sebelum aku kembali ke Malang. Dalam kesibukkan jemariku menyelesaikan deadline berita sebelum liburan, masih terbayang ketinggian Semeru nan mempesona. Siang itu jarum jam menunjukkan pukul 10.00 am disaat jemariku meraih handphone sembari menghubungi mama. Bukannya aku ingin menjadi putri yang bandel seperti sebelumnya yang pergi hiking tanpa izin beliau, namun kali ini aku hanya ingin mencoba meyakinkan bahwa aku benar – benar ingin mengunjungi Mahameru sebagaimana yang mama tahu tentang keirianku pada foto – foto yang kudapatkan di saat kecil. Betapa senang rasanya karena setelah beberapa lama memohon akhirnya mama mengizinkan aku untuk mengikuti perjalanan ke Semeru. Aku langsung bergegas menuju poliklinik kampus untuk meminta surat keterangan sehat agar dapat melakukan perjalanan ke Semeru. Sebagai salah satu gunung yang berada dibawah naungan cagar alam bromo, gunung Semeru mengharuskan para pendaki untuk memenuhi serangkain prosedur agar semua pengunjung benar – benar terdaftar di pos registrasi.